Rabu, 22 Februari 2012

Ejaan Indonesia


PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Ejaan adalah keseluruhan peraturan bagaimana melambangkan bunyi-bunyi ujaran dan bagaimana antarhubungan antara lambang-lambang itu (pemisahan dan penggabungannya dalam suatu bahasa). Jadi, secara teknis,ejaan meliputi penulisan huruf, penulisan kata, dan penulisan tanda baca.
Meskipun demikian, ruang lingkup ejaan seperti yang terdapat dalam buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan meliputi pemakaian huruf, penulisan huruf, penulisan kata, penulisan unsur serapan, dan pemakaian tanda baca.
Dari dahulu sampai sekarang bahasa indonesia telah mengalami beberapa macam perubahan ejaan hingga sampai pada saat ini yaitu ejaan yang disempurnakan (EYD).
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka peramsalahan yang akan di bahas adalah mengenai ejaan-ejaan yang pernah berlaku di Indonesia dari yang pertama digunakan sampai dengan ejaan yang berlaku sekarang.
C.    Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui tentang ejaan-ejaan yang pernah berlaku di Indonesia dan sebagai bahan pedoman untuk pembelajaran, serta untuk melengkapi tugas mata kuliah Bahasa Indonesia.
PEMBAHASAN

            Ejaan yang pernah berlaku di Indonesia dari ejaan yang pertama sekali sampai dengan ejaan yang berlaku sekarang yaitu ejaan van ofhuijsen, Soewandi, Melindo, dan Ejaan Yang Disempurnakan.

A.    Ejaan van Ofhuijsen
Pada tahun 1901 ditetapkan ejaan bahasa Melayu dengan huruf Latin, yang disebut Ejaan van Ofhuijsen. Van ofhuijsen merancang ejaan itu yang dibantu oleh Engku Nawawi Gelar Soetan Ma’moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim. Hal-hal yang menonjol dalam ejaan van ofhuijsen adalah sebagai berikut.
a.    Huruf j dipakai untuk menuliskan kata-kata  jang, pajah, sajang.
b.    Huruf oe dipakai untuk menuliskan kata-kata goeroe, itoe, oemoer.
c.    Tanda diakritik, seperti koma, ain dan tanda trema, dipakai untuk menuliskan kata-kata ma’moer, ‘akal, ta’, pa’, dinamai’.

B.     Ejaan Soewandi
Pada tanggal 19 Maret 1947 Ejaan Soewandi diresmikan untuk menggantikan Ejaan van ofhuijsen. Ejaan baru itu oleh masyarakat diberi julukan Ejaan Republik. Hal-hal yang perlu diketahui sehubungan dengan pergantian ejaan itu adalah sebagai berikut.
a.    Huruf oe diganti dengan u, seperti pada guru, itu, umur.
b.    Bunyi hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan k, seperti pada kata-kata tak, pak, maklum, rakjat.
c.    Kata ulang boleh ditulis dengan angka-2, seperti anak2, berjalan2, ke-barat2-an.
d.   Awalan di- dan kata depan di kedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya, seperti kata depan di pada dirumah, dikebun disamakan dengan imbuhan di- pada ditulis, dikarang.

C.    Ejaan Melindo
Pada akhir 1959 sidang Perutusan Indonesia dan Melayu (Slametmulyana-Syeh Nasir bin Ismail, Ketua) menghasilkan konsep ejaan bersama yang kemudian dikenal dengan nama Ejaan Melindo (Melayu-Indonesia). Perkembangan politik selam tahun-tahun berikutnya mengurungkan peresmian ejaan itu.

D.    Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan
Pada tanggal 16 Agustus 1972 Presiden Republik Indonesia meresmiakn pemakaian Ejaan Bahasa Indonesia. Peresmian Ejaan baru itu berdasarkan Putusan Presiden No. 57, Tahun 1972. Departemen Pendidikan dan Kebudayaanmenyebarkan buku kecil yang berjudul Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, sebagai patokan pemakaian ejaan itu.
Karena penuntun itu perlu dilengkapi, panitia Pengembangan Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang dibentuk oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan surat putusannya tanggal 12 Oktober 1972, No. 156/P/1972 (Amran Halim, Ketua), menyusun buku Pedomann Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan yang berupa pemaparan kaidah ejaan yang lebih luas. Setelah itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan surat putusannya No. 0196/1975 memberlakukan Pedoman Umum Pembentukan Istilah.
Pada tahun 1987 kedua pedoman tersebut direvisi. Edisi revisi dikuatkan dengan surat Putusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0543a/U/1987, tanggal 9 September 1987.
Beberapa hal yang perlu dikemukakan sehubungan dengan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan adalah sebagai berikut.

1.      Perubahan Huruf
Ejaan Soewandi                                       Ejaan Yang Disempurnakan
dj djalan,  djauh                                         j    jalan,         jauh
j    pajung, laju                                            y    payung,     layu
nj  njonja,  bunji                                          ny  nyonya,    bunyi

2.      Huruf-huruf di bawah ini, yang sebelumnya sudah terdapat dalam ejaan Soewandi sebagai unsur pinjaman abjad asing, diresmikan pemakaiannya.
f             maaf,                 fakir
v            valuta,               universitas
z            zeni,                   lezat

3.      Huruf-huruf q dan x yang lazim digunakan dalam ilmu eksakta tetap dipakai.
       a : b = P : q

4.      Penulisan di- atau ke sebagai awalan dan di atau ke sebagai kata depan dibedakan, yaitu di-  atau ke sebagai awalan ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya, sedangkan di atau ke sebagai kata depan ditulis terpisah dengan yang mengikutinya.
di- (awalan)                                                    di (kata depan)
      ditulis                                                             di kampus
      dibakar                                                           di rumah
      dilempar                                                         di jalan
      dipikirkan                                                       di sini
      ketua                                                              ke kempus
      kekasih                                                           ke luar negeri

5.      Kata ulang ditulis penuh dengan huruf, tidak boleh digunakan angka 2.
Anak-anak,      berjalan-jalan,         meloncat-loncat.

Ejaan ini berbicara tentang pemakaian huruf, dalam hubungan dengan pemakaian huruf, berikut ini disajikan pembahasan nama-nama huruf, lafal singkatan, dan kata, persukuan, dan penulisan nama diri.
1.      Nama-Nama Huruf
Dalam buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan disebutkan bahwa abjad yang digunakan dalam ejaan bahasa Indonesia terdiri atas huruh-huruf yang berikut. Nama tiap-tiap huruf disertakan di sebelahnya.
Huruf        Nama                              Huruf      Nama
A       a             a                                  N       n     en
B       b            be- bukan bi                O       o     o
C       c             ce- bukan se                P       p     pe
D       d            de                               Q       q     ki bukan kyu
E       e             e                                  R       r      er
F       f             ef                                S       s      es
G       g            ge bukan ji                  T       t      te bukan ti
H       h            ha                                U       u     u
I        i             i                                  V       v     fe – bukan fi
J        j             je                                 W      w    we
K       k            ka                                X       x     eks – bukan ek
L       l             el                                 Y       y     ye- bukan ey
M      m           em                               Z       z     zet

            Di samping itu, dalam bahasa Indonesia terdapat pula diftong, yang biasa dieja au, ai, dan oi yang dilafalkan sebagai vokal yang diikuti oleh bunyi konsonan luncuran w atau y. Dalam bahasa Indonesia terdapat juga konsonan yang terdiri atas gabungan huruf, seperti kh, ng, ny, dan sy.
            Dalam hal-hal khusus terdapat juga gabungan huruf nk, misalnya dalam bank dan sanksi, sedangkan pemakaian gabungan huruf dl, dh, gh, dz, th, dan ts, seperti dalam kata hadlir, dharma, maghrib tidak digunakan dalam bahasa Indonesia.
2.      Lafal Singkatan dan Kata
           Kadang-kadang kita merasa ragu-ragu bagaimana melafalkan suatu singkatan atau suatu kata dalam bahasa Indonesia. Keraguan itu mungkin disebabkan oleh pengaruh lafal bahasa daerah atau bahasa asing. Padahal, semua singkatan atau kata yang terdapat dalam bahasa Indonesia termasuk singkatan yang berasal dari bahasa asing harus dilafalkan secara lafal Indonesia.
Singkatan/Kata          Lafal Tidak Baku          Lafal Baku
AC                               (a se)                                (a ce)
BBC                            (be be se), (bi bi si)          (be be ce)
LNG                            (el en je)                           (el en ge)
Makin                          (mangkin)                        (makin)
Logis                            (lohis)                              (logis)
           Ada pendapat yang menyatakan bahwa singkatan yang berasal dari bahasa Inggris, misalnya AC, BBC, dan IGGI harus dilafalkan seperti bahasa aslinya. Kalau begitu, kita akan mengalami kesulitan melafalkan singkatan yang berasal dari bahasa Rusia, bahasa Jerman, atau bahasa Aztec karena nama-nama huruf dalam bahasa tersebut sudah pasti berbeda dengan nama-nama huruf dalam bahasa Indonesia.
           Akronim bahasa asing (singkatan yang dieja seperti kata) yang bersifat internasional mempunyai kaidah tersendiri, yakni tidak dilafalkan seperti lafal Indonesia, tetapi singkatan itu tetap dilafalkan seperti lafal aslinya.
Misalnya:
Kata                     Lafal Tidak Baku                 Lafal Baku
Unesco                  (u nes tjo)                               (yu nes ko)
Unicef                   (u ni tjef)                                (yu ni sef)
Sea Games            (se a ga mes)                           (si ge ims)
3.      Persukuan
           Persukuan ini diperlukan, terutama pada saat kita harus memenggal sebuah kata dalam tulisan jika terjadi pergantian baris. Apabila memenggal atau menyukukan sebuah kata, kita harus membubuhkan tanda hubung (-) di antara suku-suku kata itu tanpa jarak/ spasi. Pada pergantian baris, tanda hubung harus dibubuhkan di pinggir ujung baris. Jadi, tanda hubung yang dibubuhkan di bawah ujung baris adalah hal yang keliru. Perlu juga diketahui bahwa suku kata atau imbuhan yang terdiri atas sebuah huruf tidak dipenggal  agar tidak terdapat satu huruf pada ujung baris atau pada pangkal baris. Di samping itu, perlu pula diketahui bahwa sebuah persukuan ditandai oleh sebuah vokal.
           Beberapa kaidah persukuan yang perlu kita perhatikan dengan cermat adalah sebagai berikut.
a.       Penyukuan Dua Vokal yang Berurutan di Tengah Kata
        Kalau di tengah kata ada dua vokal yang  berurutan, pemisahan tersebut dilakukan di antara kedua vokal itu.
Misalnya:
Kata               Bentuk Tidak Baku             Bentuk Baku
Lain                la – in                                      la-in
Saat                 sa – at                                     sa-at
Daun               dau-n                                      da-un
Main               mai-n                                      ma-in
b.      Penyukuan Dua Vokal Mengapit Konsonan di Tengah Kata
       Kalau di tengah kata ada konsonan di antara dua vokal, pemisahan tersebut dilakukan sebelum konsonan itu.
Misalnya:
Kata               Bentuk Tidak Baku             Bentuk Baku
Seret               ser-et                                       se-ret
Masam            mas-am                                   ma-sam
Sepatu             sep-atu                                    se-patu
Bahasa            bah-asa                                   ba-hasa
        Selain itu, karena ng, ny, sy , dan kh melambangkan satu konsonan, gabungan huruf itu tidak pernah diceraikan sehingga pemisahan suku kata terdapat sebelum atau sesudah pasangan huruf itu.
Misalnya:
Kata               Bentuk Tidak Baku             Bentuk Baku
Langit             Lan-git                                    la-ngit
Masyarakat     mas-yarakat                            ma-syarakat
Mutakhir         mutak-hir                                muta-khir
Akhirat           ak-hirat                                   akhi-rat
c.       Penyukuan Dua Konsonan Berurutan di Tengah Kata
       Kalau di tengah kata ada dua konsonan yang berurutan, pemisahan tersebut terdapat di antara kedua konsonan itu.
Misalnya:
Kata               Bentuk Tidak Baku             Bentuk Baku
Maksud           ma-ksud                                  mak-sud
Langsung        langs-ung                                lang-sung
Caplok            ca-plok                                    cap-lok
Merdeka         mer-deka                                mer-deka
d.      Penyukuan Tiga Konsonan atau Lebih di Tengah Kata
       Kalau di tengah kata ada tiga konsonan atau lebih, pemisahan tersebut dilakukan di antara konsonan yang pertama (termasuk ng, ny, sy, dan kh) dengan yang kedua.
Misalnya:
Kata               Bentuk Tidak Baku             Bentuk Baku
Abstrak           abs-trak                                   ab-strak
Konstruksi      kons-truksi                              kon-struksi
Instansi           ins-tansi                                  in-stansi
Bangkrut         bangk-rut                                bang-krut
       Akan tetapi, untuk kata-kata yang berasal dari dua unsur yang masing-masing mempunyai arti, cara penyukuannya melalui dua tahap. Pertama, kata tersebut dipisahkan unsur-unsurnya. Kedua, unsurnya yang telah dipisahkan itu dipenggal suku-suku katanya.
Misalnya:
Kilogram         kilo gram                                ki-lo-gram
Telegram         tele gram                                 te-le-gram
Biologi            bio logi                                   bi-o-lo-gi
e.       Penyukuan Kata yang Berimbuhan dan Berpartikel
       Imbuhan (awalan dan akhiran), termasuk yang mengalami perubahan bentuk, dan partikel yang biasanya ditulis serangkai dengan kata dasarnya, dalam penyukuan kata dipisahkan sebagai satu kesatuan.
Misalnya:
Kata               Bentuk Tidak Baku             Bentuk Baku
Santapan         santa-pan                                santap-an
Mengail           meng-ail                                  me-ngail (kata dasar kail)
Mengakui        me-ngakui                               meng-akui
Belajar            be-lajar                                    bel-ajar
f.       Penyukuan Nama Orang
       Perlu dikemukakan di sini bahwa nama orang tidak dipenggal atas suku-sukunya dalam pergantian baris. Yang dibolehkan adalah memisahkan nama orang itu atas unsur nama pertama dan unsur nama kedua dan seterusnya.
Misalnya:
Nama                       Pemisahan yang Salah         Pemisahan yang Benar
Yuyun Nailufar        Yuyun Nai-lufar                     Yuyun Nailufar
Hadi Nurzaman        Hadi Nur-zaman                     Hadi Nurzaman
4.      Penulisan Nama Diri
             Penulisan nama diri, nama sungai, gunung, jalan, dan sebagainya disesuaikan dengan kaidah yang berlaku. Penulisan nama orang, badan hukum, dan nama diri lain yang sudah lazim.
Misalnya:
Universitas Padjadjaran
Soepomo Poedjosoedarmo
Dji Sam Soe

PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berbagai jenis ejaan telah diterapkan di Indonesia,  dari ejaan Van Ofhuijsen sampai pada EYD. Dari ejaan yang pertama sampai dengan yang terakhir saat ini begitu banyak perubahan didalamnya.
B.     Saran
EYD  adalah ejaan yang diterapkan saat ini, tapi masih banyak yang tidak menggunakannya, sebaiknya kita menerapkan ejaan dan tata bahasa yang sesuai dengan EYD agar kita dapat mempertahankan dan melestarikan bahasa bangsa kita sendiri.

DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Zaenal dan Tasai, Amran. 2008. Jenis- jenis Ejaan. Cermat Berbahasa Indonesia (hlm. 164-175). Jakarta: Akademika Pressindo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar